Audit Internal Masih Kurang Maksimal

M. Harisun Ulum

Menurut  M. Harisun Ulum, Konsultan ISO, berdasarkan ISO 9001:2008 ada beberapa tujuan audit internal. Pertama, memenuhi pengaturan yang sudah direncanakan sebelumnya. Kedua, memenuhi persyaratan standar  internasional, yaitu ISO 9001:2008. Juga persyaratan sistem manajemen mutu yang telah dibentuk organisasi, serta untuk mengetahui sistem yang dibentuk sudah efektif atau belum.

Namun demikian, diakui Harisun, kendala yang dihadapi adalah  perusahaan melakukan audit internal hanya sebatas mandatory. Dengan kata lain, seolah-olah hanya untuk sekedar memenuhi persyaratan ISO saja. “Padahal dengan memperoleh ISO, manajemen dalam perusahaan berharap mendapatkan nilai tambah.Dan permasalahannya, nilai tambah sering tidak tercapai karena tujuan audit internal  menghadapi kendala,” ujar Harisun kepada Quality Club.

Harisun kemudian mengungkapkan bahwa beberapa faktor yang menjadi kendala kurang maksimalnya audit internal adalah Sumber Daya Manusia (SDM)  atau auditornya dan metode yang diterapkan dalam melakukan audit internal. “Kita harus melihat kompetensi auditornya. Selama ini, yang ditemui adalah SDM yang dipercayakan menjadi auditor masih kurang  memahami ISO 9001. Pada saat melakukan internal audit, mereka tidak mengetahui metodenya. Nah, yang sering terjadi pada saat melakukan audit, mereka hanya asal audit saja. Tidak tahu awal dari mana dan akhirnya seperti apa,” katanya berterus terang.

Dan biasanya, sambungnya, mereka melakukan audit hanya berdasarkan sebatas dokumen saja, bukan berdasakan kebutuhan manajemen atau kebutuhan perusahaan. Padahal perusahaan menerapkan ISO 9001  untuk mendapatkan nilai tambah. Selain kompetensi auditor, yang paling penting adalah metode audit. Terkadang mereka menggunakan metode  mengaudit tidak dari depan ke belakang atau dari belakang ke depan. Mereka selama ini parsial, tengah, dari tengah, ke sebelumnya, balik lagi ke belakang.  “Kalau mau konsisten, yang paling baik adalah dari depan ke belakang. Atau kebalikannya,  dari belakang ke depan. Kalau kita mengambil  satu sampel seperti itu, akan ketahuan kekurangan sistem kita ada di mana.”

Lalu seharusnya bagaimana agar audit internalnya maksimal?  Dia kembali menjelaskan, seorang auditor harus memahami jenis proses di perusahaan dan apa yang diinginkan perusahaan. Jadi, jika melakukan audit jangan hanya berdasarkan prosedur saja, temuan yang didapat jangan hanya terbatas pemenuhan  dokumen saja, tetapi harus dilihat apa keinginan perusahaan. Dari internal audit yang dilakukan akan diketahui tujuan perusahaan itu, bagaimana untuk mencapainya, dilihat dari prosesnya apakah prosedurnya sudah mencukupi  apa belum, dan lain-lain.

Dia juga melihat, kurang maksimalnya internal audit disebabkan pekerjaan auditor hanya sebatas pekerjaan sampingan (side job). Dan mereka juga merasa pekerjaan tambahan itu tidak memperoleh kompensasi. Namun kalau perusahaan membangun budaya improvement,  hal itu bisa diminimalisir.

Oleh karena itu, Harisun mengambil solusi, untuk mengatasi ketidakoptimalan audit internal harus ada perubahan paradigma. Yang terpenting harus ada persamaan paradigma.  Selama ini internal audit terkesan sebagai momok menakutkan. Paradigmanya adalah bahwa suatu perusahaan melakukan audit mencari peluang untuk perbaikan, improvement. Konsekuensinya adalah bagian atau departemen banyak temuan bukan berarti kinerjanya jelek. Suatu departemen atau bagian dikatakan jelek kalau temuannya walaupun sedikit tapi tidak ditindaklanjuti. Jadi, mindset yang harus dirubah.

“Paradigma ini harus disepakati oleh manajemen, auditor, dan auditi. Jika hal itu dilakukan, auditi tidak akan menutupi kekurangan-kekurangan di bagiannya. Bahkan akan memunculkan agar ditindaklanjuti temuannya itu,” ucapnya.

Lantas, untuk menuju audit internal yang profesional, Harisun pun menyarankan audit internal memiliki bagian tersendiri, tim independen, agar kinerjanya maksimal. Pasalnya, selama ini kerap ditemui, ada auditor  dari level supervisor, kemudian mengaudit bagian lain yang auditi-nya manajer. Sudah barang tentu, ada beban psikologis yang dihadapi. “Tapi, kalau tim i audit internal sudah independen, akan hilang beban psikologisnya,” cetusnya.

Untuk perusahaan menengah bawah, dia menyarankan  lebih baik auditornya punya wewenang. Kalau auditor  tidak punya wewenang, maka tujuan untuk perbaikan akan hilang. Intinya, auditor punya wewenang. Antara auditor dan auditi punya level yang sama.(Wan)

 

Sumber/Link Asli:

http://www.qcmagz.com/internal-audit/audit-internal-masih-kurang-maksimal/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s