Pengawasan Internal MA Lemah

Kasus Suap | Reformasi Belum Sentuh Dunia Peradilan
IST
Poinnya adalah terkait pengawasan internal di MA yang punya kelemahan dan buruknya pembinaan

JAKARTA – Tertangkapnya sejumlah hakim yang diduga terlibat tindak pidana korupsi menunjukkan lemahnya pengawasan internal dari Mahkamah Agung (MA). Selain itu, pengawasan eksternal yang merupakan kewenangan Komisi Yudisial (KY) juga belum optimal.

“Poinnya adalah terkait pengawasan internal di MA yang punya kelemahan dan buruknya pembinaan,” kata Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho, di Jakarta, Jumat (3/6).

Pernyataan itu merupakan tanggapan atas ditangkapnya salah satu hakim senior yang bertugas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) bernama Syarifuddin dan kurator PT Sky Camping Indonesia (SCI) Puguh Wirawan, Rabu malam, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Berdasarkan catatan ICW, sebelumnya sudah ada tiga hakim yang ditangkap dan diproses oleh penegak hukum. Mereka adalah hakim PTUN Jakarta, Ibrahim, atas dugaan suap oleh DL Sitorus, hakim PN Tangerang, Muhtadi Asnun, atas dugaan suap oleh Gayus H Tambunan, dan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Herman Alositandi, atas dugaan pemerasan terhadap saksi kasus korupsi Jamsostek.

Sejumlah catatan buruk hakim tersebut, lanjut Emerson, memperlihatkan bahwa sanksi dari MA terhadap hakim-hakim yang nakal kurang tegas sehingga tidak menimbulkan efek jera. Hakim yang nakal rata-rata hanya mendapat hukuman administratif berupa mutasi.

“Kalau catatan buruk seharusnya tidak dapat promosi, tapi hakim Syarifuddin contohnya, dipindah dari Makassar ke Jakarta, itu kan semacam promosi,” lanjut Emerson.

Terkait pengawasan eksternal KY, ICW menilai bahwa lembaga itu belum menjadi lembaga yang menakutkan bagi hakim. Kewenangan KY berdasarkan undang-undang masih terbatas. Hasil pengawasan KY hanya bersifat rekomendasi dan tidak dapat memenjarakan. ICW juga menilai, kenaikan remunerasi yang diterima para hakim sebaiknya diikuti dengan penguatan fungsi pengawasan internal dan eksternal serta pemberian reward and punishment.

“Sepanjang hal ini tidak berjalan, akan membuka peluang hakim untuk melakukan tindakan tercela seperti suap dan pemerasan,” kata Emerson.

ICW meminta agar KPK mengembangkan kasus lain yang diduga melibatkan Syarifuddin. Hakim Syarifuddin memiliki sejumlah catatan buruk selama berkarier sebagai hakim. Ia beberapa kali dilaporkan ke Komisi Yudisial terkait kasus yang ditanganinya.

“KPK sebaiknya mengembangkan dugaan suap yang melibatkan hakim Syarifuddin, tidak hanya dalam kasus kepailitan,” kata Emerson.

Menurut Emerson, KPK harus meneliti kasus lain yang pernah diperiksa dan diputus Syarifuddin. Berdasarkan catatan ICW, selama berdinas di Makassar dan Jakarta, Syarifuddin membebaskan sedikitnya 39 terdakwa kasus korupsi. Terakhir, dia membebaskan Agusrin Najamuddin, Gubernur Bengkulu non-aktif.

Sementara itu, Wakil Ketua KPK M Jasin mengatakan, terbuka kemungkinan bagi KPK untuk menyelidiki dugaan tindak pidana korupsi lainnya yang melibatkan hakim Syarifuddin. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada hasil pengembangan penyidikan.

Saat ini, KPK masih fokus pada kasus dugaan suap terkait PT SCI yang menjerat Syarifuddin dan kurator Puguh Wirayan sebagai tersangka itu.

Juru Bicara Komisi Yudisial Asep Fajar, secara terpisah, menyatakan akan mengecek terlebih dahulu data yang disebutkan ICW, termasuk kasus-kasus yang pernah ditangani hakim Syarifuddin.

Wakil Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Alvon Kurnia Palma, mengatakan kasus Syarifuddin merupakan bukti bahwa dunia peradilan tak sepenuhnya tersentuh oleh reformasi yang di dengung-dengungkan. “Korupsi di sektor peradilan masih terlilit oleh praktek mafia hukum,” tegas Alvon. eko/ags/way/AR-1

Link Asli/Sumber:

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/63707

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s